Pernah
ngga lo ngalamin terjun ke masyarakat langsung dan lo diterima dengan tangan
terbuka? Pernah ngga lo ngalamin ngajar anak-anak di Dusun dan pas perpisahan
beberapa dari anak-anak itu sampe nangis? Gue pernah. Ceritanya pas
diksar Kampa Kapilawastu di Dusun Kesingan. Letaknya di Gunung Merbabu, Magelang. Gue kesana dalam rangka
pendidikan dasar sebagai anggota muda Kampa Kapilawastu. Kampa itu kepanjangan
dari Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam, sedangkan Kapilawastu sendiri berarti
wadah. Gue tarik kesimpulan sih Kampa Kapilawastu itu artinya wadah bagi para
mahasiswa pecinta alam khususnya jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, wadah untuk melakukan segala sesuatu yang berguna bagi
alam dan masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh generasi Kampa sebelum
sebelumnya.
Sejarah
Kampa itu sendiri dulu pernah didirikan sama beberapa dosen jurusan gue dengan
nama Kampa AN, terus mereka itu bener-bener keras pengajarannya. Misalnya aja dosen gue pernah diksar beberapa minggu di hutan dengan hanya dibekali beberapa buah mie instan dan sekotak korek. Tetapi pada masa yang dulu itu, Kampa bisa membuat sebuah Masjid yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di Dusun Kesingan. Itulah salah satu bukti nyata apa yang diberikan dari Kampa AN kepada masyarakat Kesingan. Namun setelah beberapa tahun
berjalan akhirnya kepengurusannya mati karena dirasa terlalu keras dan putusnya generasi penerus. Nah pas
tahun 2011 itu beberapa kakak angkatan dari 2009 membangun kembali kepengurusan
Kampa, angkatan 2009 itu merupakan angkatan Sahastra Samsara. Sebenarnya gak jauh beda yaa Kampa yang dulu dan yang sekarang. Kampa mengambil satu fokus
pada Dusun Kesingan di gunung merbabu. Kenapa Kesingan? Karna Kampa dan Kesingan itu sendiri sudah seperti keluarga. Pada diksar tahun lalu, sebuah lapangan voli dibuat demi mempersatukan antara remaja dari RT yang bawah dengan RT yang atas dan untuk menyalurkan hobi-hobi dari masyarakat untuk bermain voli. Dusun Kesingan dibagi menjadi 3 RT, yaitu RT 1 yang letaknya di bawah setelah melewati hutan pinus, setelah itu RT 2 yang batasnya dari gapura selamat datang sampai dengan rumah ketua RT 2 di dekat lapangan voli, dan RT 3 yang batasnya sampai di sebelah timur makam yang di atas.
Dusun Kesingan ini sendiri punya sejarah yang unik banget. Nama Kesingan diambil dari nama Mbah Singo, salah satu pendiri Dusun. Ada Dusun tetangga juga namanya Dusun Kedakan, diambil dari nama Mbah Doko. Beda sama Dusun Kesingan, Dusun Kedakan itu sendiri lebih maju dibandingkan dengan Dusun Kesingan. Terbukti dengan adanya sekolah-sekolah yang sudah ada di Dusun Kedakan dan belum ada di Dusun Kesingan. Di Dusun Kesingan inilah gue kemarin melakukan diksar bersama dengan anak-anak Kampa lainnya.
Dusun Kesingan ini sendiri punya sejarah yang unik banget. Nama Kesingan diambil dari nama Mbah Singo, salah satu pendiri Dusun. Ada Dusun tetangga juga namanya Dusun Kedakan, diambil dari nama Mbah Doko. Beda sama Dusun Kesingan, Dusun Kedakan itu sendiri lebih maju dibandingkan dengan Dusun Kesingan. Terbukti dengan adanya sekolah-sekolah yang sudah ada di Dusun Kedakan dan belum ada di Dusun Kesingan. Di Dusun Kesingan inilah gue kemarin melakukan diksar bersama dengan anak-anak Kampa lainnya.
Diksar
ini dilakukan untuk melantik para calon anggota muda Kampa Kapilawastu.
Kegiatannya di diksar yang kemarin gue lakuin itu terjun ke masyarakat,
memahami karakteristik masyarakat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat, sejarah dari
Dusun Kesingan itu sendiri, mengajar tambahan bagi anak-anak disana, dan
berbagai macam permasalahan yang ada di Dusun tersebut. Jujur dari diksar ini
gue dapet banyak banget pelajaran. Bahwa sebenernya lo hidup juga harus berguna
untuk masyarakat lain, bahwa terdapat karakteristik tersendiri dari masyarakat
desa yang mungkin ngga akan lo temui di kota, dan bahwa menimbulkan rasa percaya terhadap suatu komunitas di masyarakat sangat penting dalam
menjalin suatu hubungan yang baik. Lo harus bisa memahami karakter dan
kebiasaan dari masyarakat untuk dapat membaur dengan baik, dengan bahasa jawa
krama yang terkadang ada beberapa padanan kalimat yang kurang dapat dimengerti
karena kearifan lokal mereka. Semua hal itu membuat calling dari dalam diri gue
muncul, untuk kesana lagi, untuk melakukan hal yang lebih lagi bagi masyarakat,
untuk ketemu anak-anak lagi, mengajar lagi. Karena disana gue seperti
mempunyai keluarga. Gue inget banget waktu gue bilang sama salah satu anak Kesingan,
namanya Bayu “Bayu aku mau pulang lho nanti,
tungguin aku disini yaa, besok aku datang lagi” dan Bayu mengangguk
sambil tersenyum. Rasanya sedih ninggalin mereka. Lima hari cukup membuat gue
sayang sama mereka, pengen balik kesana lagi. Ini foto mereka, Rayhan Bima dan
Bayu, mereka adalah anak-anak yang aktif, supel, dan pinter.
Dan
ini foto beberapa dari mereka pas nyanyi, lucu banget. Ada satu anak yang gue suka karna lucu banget. Namanya Dimas, di foto itu yang tengah dan paling kecil. Umurnya sekitar 4 tahunan, masih TK kecil. Lincah dan
periang. Semoga cepet ketemu mereka semua lagi nantinya.
Untungnya
sekitar awal semester depan ada dikjut, pendidikan lanjutan yang akan gue
jalanin dari Kampa Kapilawastu dan tempatnya di Kesingan lagi. Dikjut ini diadakan
dalam rangka melantik kami menjadi anggota baru dari Kampa Kapilawastu. Dikjut
ini nantinya akan melanjutkan apa yang udah kami lakukan di diksar kemarin. Sesuai dengan tujuan kami, membuat
sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan alam. Karena pada prinsipnya terdapat
sebuat segitiga yang berisi alam, masyarakat, dan Kapilawastu. Karena kita
lahir dari alam, kita hidup di alam, dan kembali lagi ke alam.
Salam
lestari






