25/01/13

From Kesingan with Love



Pernah ngga lo ngalamin terjun ke masyarakat langsung dan lo diterima dengan tangan terbuka? Pernah ngga lo ngalamin ngajar anak-anak di Dusun dan pas perpisahan beberapa dari anak-anak itu sampe nangis? Gue pernah. Ceritanya pas diksar Kampa Kapilawastu di Dusun Kesingan. Letaknya di Gunung Merbabu, Magelang. Gue kesana dalam rangka pendidikan dasar sebagai anggota muda Kampa Kapilawastu. Kampa itu kepanjangan dari Kumpulan Mahasiswa Pecinta Alam, sedangkan Kapilawastu sendiri berarti wadah. Gue tarik kesimpulan sih Kampa Kapilawastu itu artinya wadah bagi para mahasiswa pecinta alam khususnya jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik, wadah untuk melakukan segala sesuatu yang berguna bagi alam dan masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh generasi Kampa sebelum sebelumnya.

Sejarah Kampa itu sendiri dulu pernah didirikan sama beberapa dosen jurusan gue dengan nama Kampa AN, terus mereka itu bener-bener keras pengajarannya. Misalnya aja dosen gue pernah diksar beberapa minggu di hutan dengan hanya dibekali beberapa buah mie instan dan sekotak korek. Tetapi pada masa yang dulu itu, Kampa bisa membuat sebuah Masjid yang sampai sekarang masih berdiri kokoh di Dusun Kesingan. Itulah salah satu bukti nyata apa yang diberikan dari Kampa AN kepada masyarakat Kesingan. Namun setelah beberapa tahun berjalan akhirnya kepengurusannya mati karena dirasa terlalu keras dan putusnya generasi penerus. Nah pas tahun 2011 itu beberapa kakak angkatan dari 2009 membangun kembali kepengurusan Kampa, angkatan 2009 itu merupakan angkatan Sahastra Samsara. Sebenarnya gak jauh beda yaa Kampa yang dulu dan yang sekarang. Kampa mengambil satu fokus pada Dusun Kesingan di gunung merbabu. Kenapa Kesingan? Karna Kampa dan Kesingan itu sendiri sudah seperti keluarga. Pada diksar tahun lalu, sebuah lapangan voli dibuat demi mempersatukan antara remaja dari RT yang bawah dengan RT yang atas dan untuk menyalurkan hobi-hobi dari masyarakat untuk bermain voli. Dusun Kesingan dibagi menjadi 3 RT, yaitu RT 1 yang letaknya di bawah setelah melewati hutan pinus, setelah itu RT 2 yang batasnya dari gapura selamat datang sampai dengan rumah ketua RT 2 di dekat lapangan voli, dan RT 3 yang batasnya sampai di sebelah timur makam yang di atas. 

Dusun Kesingan ini sendiri punya sejarah yang unik banget. Nama Kesingan diambil dari nama Mbah Singo, salah satu pendiri Dusun. Ada Dusun tetangga juga namanya Dusun Kedakan, diambil dari nama Mbah Doko. Beda sama Dusun Kesingan, Dusun Kedakan itu sendiri lebih maju dibandingkan dengan Dusun Kesingan. Terbukti dengan adanya sekolah-sekolah yang sudah ada di Dusun Kedakan dan belum ada di Dusun Kesingan. Di Dusun Kesingan inilah gue kemarin melakukan diksar bersama dengan anak-anak Kampa lainnya.

Diksar ini dilakukan untuk melantik para calon anggota muda Kampa Kapilawastu. Kegiatannya di diksar yang kemarin gue lakuin itu terjun ke masyarakat, memahami karakteristik masyarakat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat, sejarah dari Dusun Kesingan itu sendiri, mengajar tambahan bagi anak-anak disana, dan berbagai macam permasalahan yang ada di Dusun tersebut. Jujur dari diksar ini gue dapet banyak banget pelajaran. Bahwa sebenernya lo hidup juga harus berguna untuk masyarakat lain, bahwa terdapat karakteristik tersendiri dari masyarakat desa yang mungkin ngga akan lo temui di kota, dan bahwa menimbulkan rasa percaya terhadap suatu komunitas di masyarakat sangat penting dalam menjalin suatu hubungan yang baik. Lo harus bisa memahami karakter dan kebiasaan dari masyarakat untuk dapat membaur dengan baik, dengan bahasa jawa krama yang terkadang ada beberapa padanan kalimat yang kurang dapat dimengerti karena kearifan lokal mereka. Semua hal itu membuat calling dari dalam diri gue muncul, untuk kesana lagi, untuk melakukan hal yang lebih lagi bagi masyarakat, untuk ketemu anak-anak lagi, mengajar lagi. Karena disana gue seperti mempunyai keluarga. Gue inget banget waktu gue bilang sama salah satu anak Kesingan, namanya Bayu “Bayu aku mau pulang lho nanti, tungguin aku disini yaa, besok aku datang lagi dan Bayu mengangguk sambil tersenyum. Rasanya sedih ninggalin mereka. Lima hari cukup membuat gue sayang sama mereka, pengen balik kesana lagi. Ini foto mereka, Rayhan Bima dan Bayu, mereka adalah anak-anak yang aktif, supel, dan pinter.


Dan ini foto beberapa dari mereka pas nyanyi, lucu banget. Ada satu anak yang gue suka karna lucu banget. Namanya Dimas, di foto itu yang tengah dan paling kecil. Umurnya sekitar 4 tahunan, masih TK kecil. Lincah dan periang. Semoga cepet ketemu mereka semua lagi nantinya.


Untungnya sekitar awal semester depan ada dikjut, pendidikan lanjutan yang akan gue jalanin dari Kampa Kapilawastu dan tempatnya di Kesingan lagi. Dikjut ini diadakan dalam rangka melantik kami menjadi anggota baru dari Kampa Kapilawastu. Dikjut ini nantinya akan melanjutkan apa yang udah kami lakukan di diksar kemarin. Sesuai dengan tujuan kami, membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan alam. Karena pada prinsipnya terdapat sebuat segitiga yang berisi alam, masyarakat, dan Kapilawastu. Karena kita lahir dari alam, kita hidup di alam, dan kembali lagi ke alam.

Salam lestari


03/01/13

mereka juga keluargaku



sebagai anak kos yang jauh dari keluarga, gue suka kangen tiba-tiba sama keluarga gue di rumah, apalagi sama nyokap. suka nangis sendiri kalo lagi kangen. tapi di Jogja ini gue sebenernya juga ada keluarga, ada banyak malah. ada keluarganya bude di banguntapan, terus ada mbah di gunung kidul, tapi ya jauh gitu kan rumahnya. keluarga gue yang paling deket itu yaa temen-temen kosan gue. mereka udah kayak keluarga buat gue. tiap pulang kampus ketemu mereka, setiap hari ketemu mereka sih haha sering banget menghabiskan waktu bareng-bareng gitu. sering nonton film bareng, bobok bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng, ngasih surprise buat yang ulang tahun, terus foto-foto bareng, kalo mandi bareng sih ngga pernah yaa tapinya. mereka itu Ajeng, Puput, Mayang, Mba Shinta, dan Riska.

1. Ajeng
Dia ini asalnya dari Pekalongan, di UGM jurusan sastra nusantara FIB 2011. anaknya kocak, nyebelin kadang-kadang, suka banget ngebully orang (puput sama mba shinta paling sering), tapi dia ini yang paling sama jalan pikirannya sama gue yaa walau kadang-kadang beda juga. 


2. Puput
Dia ini asli orang Padang, anak sosial ekonomi pertanian Faperta 2011. orangnya itu moody banget, kalo lagi ngga mood terus dibecandain bisa ngambek haha terus paling sebel banget kalo dia ngomongnya sok imut gitu, jadi cempreng jatohnya haha 


3. Mayang
Mayang ini dari Padang, tetanggaan sama Puput, tapi sebenernya dia orang Jawa yang besar di Padang. dia jurusan sastra jepang FIB 2011. orangnya kepo banget, terus ngga bisa diem apalagi kalo lagi tidur, suka ngigo juga pas tidur haha lucu banget kalo pas dia ngigo


4. Mba Shinta
Dia ini lebih tua, angkatan 2008 dan udah lulus, makanya dipanggil mba hehe dulu di jurusan sastra asia barat FIB, berdarah campuran Padang dan Jawa. orangnya baik, ngga bisa marah, kalo buat dibully enak banget (peace mba haha), suka tiba-tiba curcol gitu kalo ngomongin soal cowok wkwk 

5. Riska
Riska ini anak hama penyakit tanaman Faperta 2011, orang Purwakarta. orangnya moody juga kayak puput, makanya mereka ini cocok bangetlah. suka banget sama fotografi, pernah jadi model juga kalo ngga salah, seneng difoto dan memfoto haha


itu cerita sekilas tentang mereka. gue sebenernya rada ngga bisa finishing cerita wkwk makanya tiap abis cerita akhirnya sama sama aja kata-katanya. yaudahlah yang penting udah cerita yakan haha

@melaninuneno